Selasa, 18 April 2017

Tawa Mbah Fanani Setelah Puluhan Tahun Bertapa dan 'Membisu' di Dieng

Indramayu - Mbah Fanani kini di Indramayu, Jawa Barat. Perilaku petapa Dieng itu sedikit berbeda. Minimal dia mau tertawa dan berbicara melalui isyarat.

"Mbah, ini ada teman dari media. Datang ke sini mau tanya, katanya Mbah diculik," ucap Toha kepada Mbah Fanani di Patilasan Dampu Awang, Desa Sudimampir, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Selasa (18/4/2017). Toha adalah anak Mbah Fanani.

Mbah Fanani merespons dengan sebuah isyarat tangan melambai dan tertawa dengan suara yang sangat kecil. Isyarat tangan itu menunjukkan bahwa dia tidak menjadi korban penculikan. Selebihnya, ia hanya memberi isyarat.

detikcom sempat menyaksikan Mbah Fanani melontarkan sejumlah kata saat pertama kali bertemu dengan Syekh Rojab atau Abah Rojab di kamar. Sayangnya, tak terdengar jelas karena hanya terlihat dari luar kamar dan suara yang dilontarkan kecil, layaknya suara seorang sepuh.

Toha mengatakan Abah Rojab dan Mbah Fanani tampak akrab bak sohib yang telah lama berpisah dan bertemu kembali. Soal obrolan yang diselingi tawa, Toha mengatakan, saat itu Abah Rojab, yang berusia sekitar 90 tahun, akan salaman dengan Mbah Fanani, yang konon berusia lebih tua, sekitar 100 tahun.

"Pas mau salaman, ditarik tangannya. Tidak usah katanya sambil bercanda," ujarnya kepada detikcom.

Lebih lanjut Toha mengaku tidak tahu apa yang menjadi obrolan keduanya. "Mbah (Fanani) bilang ke saya, sana ke luar dulu, penting," tiru Toha.

Atas perintah tersebut, Toha dan istrinya, yang semula berada di dalam kamar, langsung keluar. Pintu kamar pun langsung ditutup sehingga obrolan 'penting' itu hanya bisa diketahui oleh Mbah Fanani dan Abah Rojab sendiri.

Mbah Fanani dijemput dari Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (12/4) lalu setelah hampir 21 tahun bertapa di dataran tinggi tersebut. Hari ini dia dipertemukan dengan Abah Rojab, sesepuh yang disebut-sebut jadi inspirasi penjemputan itu. (try/detik)

loading...

SHARE THIS