Minggu, 16 April 2017

KH Syukron Ma’mun: Hidupnya Islam karena banyaknya bidah hasanah




Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta KH Syukron Ma’mun menjelaskan, bid’ah berasal dari bahasa Arab bada’a yang memiliki arti barang baru yang tidak ada sebelumnya. Lebih khususnya, bid’ah adalah amalan yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad. Menurutnya, bid’ah itu ada dua, yaitu bid’ah yang baik dan bid’ah yang tercela.

“Imam Syafii mengatakan bahwa bid’ah itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Bid’ah yang terpuji adalah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis. Sedangkan, yang tercela adalah yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadis,” terang Kiai Syukron saat berceramah pada Peringatan Haul Ke-1 KH Ali Musthafa Ya’qub di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (15/4) malam.

Maka dari itu, ia menilai, tidak semua bid’ah itu jelek dan tercela. Ia mecontohkan, Khalifah Umar bin Khattab juga melakukan dan menganjurkan bid’ah yang baik seperti mengadakan Shalat Terawih berjamaah.

“Sebelumnya Shalat Terawih itu sendiri-sendiri. Kemudian Umar melakukan Shalat Terawih berjamaah. Adapun yang menjadi imamnya adalah Ubay bin Ka’ab. Umar pun berkata inilah sebagus-bagusnya nikmat,” urai Kiai Syukron.

Lebih jauh, ia mengkritik mereka yang melarang orang melaksanakan bid’ah hasanah seperti tahlil, maulid, shalawatan, dan lainnya. Menurutnya, orang tersebut adalah mereka yang memahami Al-Qur’an dan hadis secara sepotong-sepotong.

“Dalam memahami agama itu itu, tidak cukup satu dua ayat Al-Qur’an. Tidak hanya cukup satu dua hadis,” tegasnya.

“Hanya modal dua ayat tiga ayat menganggap kiai salah semua,” lanjutnya.

Ia menilai, Nabi Muhammad menyuruh umatnya untuk membuat bid’ah yang baik sebanyak-banyaknya. Karena semakin banyak bid’ah yang baik maka itu akan semakin bagus dan membuat Islam semakin hidup.

“Hidupnya Islam karena banyaknya bida’h. Bid’ah yang ada sandarannya dalam Al-Qur’an dan hadis,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi/nu.or.id)
loading...

SHARE THIS