Selasa, 18 April 2017

Beredar Tabloid Mirip Obor Rakyat Serang Anies Baswedan, siapa dalangnya?

Tabloid 'Kartu Indonesia Pintar' habis-habisan menyerang kinerja Anies Baswedan saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan.

Dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, persaingan politik berlangsung panas dan ganas. Media abal-abal pun dijadikan sebagai bahan menjatuhkan lawan politik. Kala itu Tabloid Obor Rakyat mengeroposi citra Joko Widodo (Jokowi). Dewan Pers menyatakan media tersebut tak mematuhi kode etik jurnalistik. Akhirnya kedua aktor intelektual, Setriyadi Budiono dan Darmawan Sepriyosa, divonis penjara 8 bulan.

Di Jakarta, Pilgub dengan rasa Pilpres ini dimeriahkan pula oleh media gadungan. Dengan mengemas tuduhan pseudo-jurnalistik, tabloid Kartu Indonesia Pintar (KIP) menghantam Cagub DKI Jakarta Anies Baswedan.

Tabloid KIP, memuat tajuk berita berjudul "Murka Jokowi, Penghianatan Anies", yang isinya terkait pernyataan Presiden Jokowi di akun Twitter-nya pada 5 Oct 2016. Jika ditelusuri, versi lengkap dari twit tersebut terdapat dalam situs setkab.go.id. Dengan rilis berjudul "Presiden Jokowi Minta Perombakan Besar-besaran Untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan", situs tersebut menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud Jokowi dengan perombakan besar-besaran di bidang pendidikan. Hal itu terkait keinginan Jokowi untuk menuntaskan distribusi Kartu Indonesia Pintar dan pastikan bahwa kartu tersebut betul-betul menjangkau siswa-siswa miskin dan tepat sasaran.

Selain itu Jokowi menampung data sebanyak 1,8 juta ruang kelas di Indonesia, hanya 466.000 dalam kondisi yang baik. Sementara dari 212.000 sekolah, ada 100.000 sekolah yang belum memiliki peralatan pendidikan.

Di Tabloid KIP, twit Jokowi tersebut diarahkan untuk menyasar Anies. Dia dituding menyelewengkan program KIP. Caranya ialah melalui kerjasama dengan Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo. Kemudian diklaim bahkan, karena sebab itu, Jokowi mendepak Anies dari kursi pemerintahan.

Terkait pengungkapan tudingan tersebut tercantum dalam tulisan selanjutnya, berjudul "Prestasi Sangat Rendah dan Proyek untuk Sekutu". Dengan memanfaatkan sumber anonim, Anies dituduh memenangkan salah satu peserta tender yakni PT Saria Antaran Prima (SAP) Express.

Tabloid tersebut memuat gambar pengumuman terkait tender biaya pengiriman KIP Tahap 3. Pada gambar selanjutnya memuat rincian peserta lelang. Kemudian divonislah bahwa pemenang tender tersebut ialah PT SAP Express.

Padahal dari data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP), pada tender biaya pengiriman KIP tahap 3, dimenangkan oleh PT Dexter Eksperindo. Di laman yang sama, pada tender Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tender  biaya pengiriman KIP tahap 2, dimenangkan pula oleh PT Dexter Eksperindo.

Sedangkan koran itu, menganggap pemenang tender kedua dan ketiga dengan nama, PT SAP Express. Sebenarnya proses tender tahap 2 dan 3 itu bukan di bawah kendali Anies, melainkan penggantinya yakni, Muhadjir Effendy. Justru saat menjabat, Anies mengikuti proses tender tahap 1 yang dimenangkan oleh PT SAP.

Lantas Tabloid KIP menghubungkan Direktur Utama PT SAP, Budiyanto Darmastono dengan Anies. Budiyanto memang menjabat sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Partai Perindo. Dari sanalah muncul tuduhan kongkalikong tender antara Anies dengan Partai Perindo.  

Artikel lainnya terkait penyerangan personal Anies. Ditelusuri bahwa Anies kerap membela orang yang pernah diserangnya. Misalnya saja saat mengikuti konvensi Partai Demokrat, Anies mengkritik Jokowi. Kemudian ketika menjadi juru bicara Jokowi, Anies melontarkan pendapat panasnya pada Prabowo Subianto. Kemudian kini, Anies justru menjadi calon gubernur DKI Jakarta yang disung oleh partai yang dikomandoi Prabowo.

Tabloid ini memang mencantumkan beberapa media lokal hingga mainstream sebagai sumbernya. Namun di tubuh artikel, barulah disusupi opini. Ada yang mencoba memakai pijakan tapi data yang dicomot salah. Selain itu tabloid ini tak tanggung mengambil sumber teman dekatnya dan sumber anonim lainnya.

Seluruh yang tercantum dalam konten tabloid ini sempat diviralkan melalui twit berseries akun Twitter @sindir. Selain itu sempat ditulis di kompasiana.com melalui akun Mawalu. Situs gerilyapolitik.com pun sempat memuat artikel serupa berjudul "Saat Jabat Menteri, Anies Berikan Proyek Besar ke Lingkaran Hary Tanoe". Akun-akun itu semuanya anonim.

Sudah jelas Tabloid KIP bukan produk jurnalistik yang diproses melampaui berbagai standar verifikasi terukur. Secara tata bahasa, Tabloid KIP digarap dengan lebih baik ketimbang Obor Rakyat. Bahasanya lebih rapi dan bersih. Perbedaan lainnya, Tabloid KIP juga tidak menyasar aspek SARA sebagaimana dilakukan oleh Obor Rakyat kepada Jokowi dalam Pilpres 2014.  

Persamaannya: baik Tabloid KIP maupunObor Rakyat sama-sama diterbitkan secara anonim (tak ada susunan dan alamat redaksi), beredar di masa kampanye, sama-sama menyasar kandidat dalam proses politik elektoral dan sama-sama berformat tabloid. (Tirto.id)

loading...

SHARE THIS