Selasa, 24 Januari 2017

Paus Franciscus bandingkan Donald Trump dengan Adolf Hittler


SuaraNetizen.com - Naiknya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat memantik perhatian dari seluruh dunia, apalagi dia berhasil merebut kemenangan Pilpres AS dari tangan Hillary Clinton. Apalagi, selama musim kampanye, Trump kerap kali menelurkan pernyataan-pernyataan kontroversial, dan penuh diskriminasi.

Dalam wawancaranya dengan media Spanyol, Paus Franciscus mengaku tidak ingin terlalu cepat menilai presiden baru AS tersebut. Apalagi, Trump belum berbuat banyak sejak memangku jabatan tersebut lima hari lalu.

"Kita harus tunggu dan lihat," kata Paus kepada dua jurnalis koran Spanyol El Pais dalam wawancara yang berlangsung selama 75 menit, demikian dilansir catholicherald.co.uk, Selasa (24/1).

Dalam wawancara yang dipublikasikan 20 Januari lalu, Paus mengaku masih menunggu kebijakan-kebijakan yang akan diambil Trump, terutama terhadap dunia. Namun, dia justru membandingkan dengan naiknya Adolf Hitler, penguasa Jerman yang memicu Perang Dunia Kedua.

Menurutnya, krisis bisa menyebabkan ketakutan besar dan membuat seseorang muncul dan memerintah dengan tangan besi. Kondisi itulah yang terjadi di Jerman setelah kalah dalam Perang Dunia Kedua, dan membuat negara itu jatuh ke dalam krisis berkepanjangan.

Di tengah serba ketidakpastian, apalagi Presiden Paul von Hindenburg gagal mengembalikan mengendalikan krisis tersebut membuat Hitler mendapatkan kesempatan untuk muncul ke publik. Kemunculannya itu bertepatan ketika publik Jerman merasa telah kehilangan identitasnya.

"Setelah krisis 1930, Jerman hancur, perlu untuk membangun kembali, untuk menemukan identitasnya, seorang pemimpin, seseorang yang mampu memulihkan karakter, dan ada seorang pemuda bernama Adolf Hitler yang mengatakan 'aku bisa, aku bisa," papar Paus.

Kemampuannya dalam berbicara dan membangun opini publik itulah yang membuat Hitler mendapatkan dukungan besar dari rakyatnya. Apalagi, mendapatkan kekuasaannya bukan dari upaya kudeta atau merebutnya dari tangan Hindenburg.

"Hitler tidak mencuri kekuasaan itu, dia dipilih rakyatnya, dan dia menghancurkan rakyatnya sendiri," tambahnya.

Atas dasar itulah dia menganggap wajar ketika Trump menjanjikan pembangunan tembok perbatasan, kawat berduri atau langkah apapun yang dianggap dapat menghilangkan identitas sebuah negara. Sebab, setiap bangsa dinilainya memiliki hak untuk mengontrol perbatasannya sendiri, apalagi mengatasi ancaman teror.

Akan tetapi, hak tersebut bukan berarti membatasi warganya sendiri.

"Tidak ada satu negarapun yang memiliki hak untuk menghilangkan warganya untuk berhubungan dengan tetangganya," tegasnya. (Mdk/SN)
loading...

SHARE THIS